Blog penggemar studi sejarah dan peradaban Islam

Selembayung

Selembayung

Breaking

Minggu, 20 Maret 2016

LUPA BAHASA KAMPUNG


Bagi tuan yang merantau, 'sindrom' ini mungkin sudah tidak asing lagi, bahkan telah lazim terjadi pada tuan. Ya, memang. Ini memang penyakitnya para perantau. Terlalu kasar dikatakan penyakit? Sudahlah, bilang saja fenomena. Sekian masa terjauhkan dari kampung halaman, dapat membuat lidah kelu untuk berucap bahasa kampung. Level kelupaan tersebut juga bermacam-macam. Ada orang yang lupa beberapa kosakata dalam bahasa kampungnya, ada yang lupa logat kampungnya, ada yang kedua-duanya, bahkan ada yang keduanya sukses tergantikan dengan bahasa dan logat rantau. Penderita tingkatan-tingkatan tersebut sudah saya dapati di sekitar saya. Semua levelnya. Kalau lah ada level yang kurang silahkan tuan tambahkan.

LEVEL SATU
Lupa beberapa kosakata. Ini paling umum terjadi dan paling rendah tingkatannya. Kadang terjadi ketika tuan hendak mencerna sebuah kata baru dalam bahasa rantau, atau anggap sajalah bahasa Indonesia; lantas tuan kiaskan dengan bahasa kampung yang merupakan sinonimnya. Kata ini bahasa kampungnya apa ya? Atau terjadi berupa hanya sekadar terbelit lidah (modernnya: keceplosan) mengucap bahasa rantau ketika kembali berbahasa kampung. Dalam kasus ini ambillah contoh: terasi, sumur, sore, dan paling-paling. Orang kampung saya menyebutnya: belacan, perigi, petang dan pepaling. Pepaling itu apa? Kalau ini berhubungan dengan grammarnya orang Melayu. Sudah menjadi kaidah, umumnya setiap kata ulangan tidak diulang dua kali seperti halnya dalam bahasa Indonesia. Namun, suku kata pertama disematkan di awal kata dan huruf vokalnya diganti e. Paling-paling jadi pepaling. Sekali-kali jadi sekekali. Tiba-tiba jadi tetiba. Cuman sekadar contoh, bisa dikiaskan dalam bahasa masing-masing.

LEVEL DUA
Salah logat. Fenomena 'misaccent' (apa betul istilahnya?) ini biasanya terjadi pada orang yang di rantau berjumpa dengan berbagai macam manusia, dari macam-macam daerah, dengan macam-macam bahasa, budaya dan adat. Macam orang Bagan yang merantau ke Pekanbaru lah, bisa terpengaruh logat Pekanbaru, atau anggaplah logat minang (karena logat Pekanbaru dengan 'ndeeh'nya sudah hampir punah). Orang Riau yang merantau ke Surabaya terpengaruh oleh logat jawa timuran. Dan sebaliknya. Saat dua tahun lalu teman sekampung saya umroh kemari, kebetulan dia menyertai rombongan dari Binjai - Sumut. Salah seorang jamaah -yang mendengarkan saya berbincang dengan teman saya- berujar: "Logat kawan kau ni kek mirip logat Pekanbaru ya?" Padahal teman saya juga selo saja dan bisa jadi tidak menyadari. Well, saya juga tidak tahu sedang pakai logat mana, bahasa kampung pun saya tak lancar. Hehe..
LEVEL TIGA
Salah logat dan bahasa, namun bahasa kampung masih bisa. Hampir sama dengan level sebelumnya namun lebih parah sikit. Kasus nyata dalam hal ini, bapak saya kalau bicara dengan putra-putranya dan murid-muridnya di sekolah, sudah hampir tak kentara lagi logat suroboyoannya (mungkin masih ada sikit, tapi hanya orang kampung bapak yang bisa mendeteksi). Kosakata yang dipakai pun kosakata bahasa Indonesia atau bahasa Bagan. Namun ketika bercakap-cakap dengan bu lik saya atau menelepon ke kampungnya, masih kental logatnya.

Kalau tuan sering tercenung di depan layar kaca (yang sekarang banyak tergantikan dengan layar langsing, yang kucing saja tak berkesempatan lagi untuk mendengkur di atasnya), tentu banyak lalu-lalang fenomena ini. Saya cuman mau berhusnuzhon bahwa sosok-sosok tersebut, dengan perbendaharan kata nginggris-nya -dia serius atau hanya berlagak saja, entahlah- termasuk level ini.

LEVEL EMPAT
Inilah yang paling kronis. Biasanya terjadi pada orang yang sudah sangat-sangat lama meninggalkan kampung halaman, jarang pulang kampung bahkan tidak pernah, mungkin pula telah ganti kewarganegaraan . Juga pada anak-anak mereka, yang notabenenya lahir di rantau. Apatah lagi kalau orang tua mereka tidak pernah berbahasa kampung di rumah. Walhasil, logat dan bahasa setempatlah yang diadopsi oleh sang anak. Guru saya Syaikh Anis Tohir Al-Indunisy (pengajar di Masjid Nabawi dan dosen di kampus saya) saat mengajar di kelas saya pada dauroh yang diadakan oleh kampus 6 tahun yang lalu, mengaku tidak bisa berbahasa Indonesia. Beliau lahir di sini, berayahkan Lampung beribukan Kroya - Jateng. Hanya beberapa kata sajalah yang beliau ingat, menurut salah seorang senior, hanya nama-nama makanan. Saya amat terkenang, ketika itu di kelas beliau melafalkan kata 'cicak' dengan logat yang sangat tidak ngendonesa, membuat saya dan kebanyakan yang hadir tersenyum simpul. Ini karena ayah beliau membiasakan anak-anaknya untuk berbahasa Arab sejak kecil. Bahkan -masih menurut senior saya yang sama- memberi hukuman bagi anak-anaknya yang berbahasa Indonesia. Tak ayal, logat beliau -masyaAllah- sangat Arab dan bahasa beliau sangat fasih dan terang, seterang purnama pada tengah bulan Hijriyah. Namun bagi saya, tetap paling mudah dimengerti bahasa dan kefasihannya bagi para perantau pendatang baru di kota ini.
Tapi, di tengah badai perubahan bahasa dan logat ini, ada beberapa yang tegar dan tidak goyah (halah!). Contohnya mamak (paman) saya. Beliau mungkin masih masuk level satu. Setelah sekian tahun tinggal di Jawa Barat, sampai beranak tiga di sana, logat Musu (kampung ibu saya)nya masih amat kental. Sekental selemo yang terjun bebas dari lubang hidung anak usia 3 tahun atau -permisalan yang lebih sopan- sekental madu segar yang baru ditangguk dari haribaan para lebah yang lelah berpeluh mengumpulkannya. Ini juga terjadi pada mereka-mereka yang asyik berkumpul-kumpul dengan orang-orang sekampungnya. Bahkan di rantau, bahasa kampung mereka menjadi lebih fasih (Mana pula bisa? Yang ada malah melahirkan gaya baru dalam berbahasa kampung, dengan tambahan corak lokal). Hal ini baik sih untuk melestarikan bahasa, tapi jangan terlalu betul lah! Sisi negatifnya, mereka tertinggal bahkan tidak bisa menguasai bahasa setempat yang telah menjadi lingkungan hidupnya sehari-hari, bahkan layaknya nyawa. Seperti di pondok saya dulu yang berdwibahasa.

Oleh karena itu, peraturan pondok saya dulu membatasi pergaulan antar sesama santri dari daerah yang sama. Bahkan -seingat saya- ada peraturan yang melarang dua santri dari daerah yang sama untuk duduk sebangku dalam kelas, padahal bangku di pondok isinya 4 orang. Engkau dan engkau, sama-sama pelafal bahasa yang berintonasi mendayu-dayu, sama-sama bau belacan; jangan coba-coba duduk berdua ketika sholat Maghrib. Bisa-bisa kena setrap bagian keamanan. Apalagi kalau bagian keamanannya hafal air muka santri yang gemar makan belacan (hah?). Yang lebih jelas dan tegas adalah larangan berbahasa daerah, yang berkonsekwensi hadiah cukur pelontos layaknya orang yang baru bertahallul dari umroh. Peraturan dwibahasa (Arab dan Inggris) yang diterapkan dalam program dwipekan untuk masing-masing bahasa ini sangat ampuh. Kami menjadi bisa karena terpaksa (awalnya) akhirnya terbiasa. Tak heran, 4 level sindrom, eh fenomena di atas sangat gampang ditemukan pada kami para santri. Tapi kalau ada santri di pondok yang bahasa kampungnya malah maju pesat macam kuda pacu kesetanan, husnuzhonlah bahwa mungkin ia termasuk golongan orang-orang yang maunya bergaul dengan 'dia-dia' saja.

Salah satu sisi positifnya, kita orang rantau bisa belajar multibahasa atau sekadar jadi pemerhati yang tahu gejala-gejala yang terdapat pada bahasa selain bahasa kampungnya. Di rantau saya sekarang, di kota Nabi, saya temukan orang-orang itu. Ada kawan yang berdarah Bugis, lahir di Bali. Tidak hanya lancar dua bahasa tersebut, bahasa Banjar dan Sunda pun dia bisa. Panjanglah ceritanya. Adapula teman yang bisa bertransformasi logat Arabnya ke logat Saudi, sama persislah dengan orang lokal sini. Istilahnya 'su'udi miyah-miyah' (100% saudi). Orang-orang tersebut dikaruniai oleh Allah Al-Mannaan kemampuan linguistik yang maha tinggi, bersyukurlah jika tuan termasuk di dalamnya. Adapun orang seperti saya, cukup tahu dan memperhatikan saja lah. Bahasa kampung belepotan, bahasa kampung bapak apalagi, bahasa kampung ibu pun sama. Mengaku orang asli kampung bapak pun jarang saya mau. Lihat saja nama akun saya. Hehe..

Jadi, fenomena ini merupakan 'big deal' atau bukan? Terserah tuan lah yang menilai. Menurut saya, bukan big deal karena ada sisi positifnya. Asalkan -saya tidak menghukumi-, ketika balik ke kampung bahasa kampung tersebut bisa di-recharge ulang, agar tidak kagok bercakap dengan orang kampung sendiri.

160320, menjelang adzan Asar,
Haikal Alghomam Suhardi Al Bagany

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Comments