Blog penggemar studi sejarah dan peradaban Islam

Selembayung

Selembayung

Breaking

Kamis, 01 Juni 2017

KEAMIRAN WANGSA TAHIR DI KHURASAN (205-259 H) (BAG. 1 DARI 3)

Oleh: Haikal Alghomam Suhardi, BA
Umat Islam sejak zaman kenabian senantiasa di bawah kepemimpinan satu imam/ khalifah, hingga datang zaman Dinasti Bani Abbas yang memegang kekhalifahan sejak tahun 132 H. Seiring berjalannya waktu, muncul fenomena berdirinya negara-negara dan kerajaan kecil dalam tubuh kekhalifahan. Ada yang berdiri dengan restu kekhalifahan dan memisahkan diri secara administrasi dan nama saja. Ada pula yang memang memisahkan diri secara mutlak tanpa ingin diintervensi oleh kekhalifahan pusat di Baghdad. Di antara kerajaan-kerajaan kecil ini terdapat sebuah keamiran yang berdiri di wilayah Khurasan[1] yang memiliki hubungan yang kuat dengan kekhalifahan.
Keamiran ini dinisbatkan kepada pendirinya Tahir bin Al-Husain bin Mush’ab bin Zuraiq bin Mahan, salah satu panglima utama di zaman khalifah Al-Ma’mun.  Sang kakek, Mush’ab bin Zuraiq adalah walikota Pushang[2] di zaman revolusi Bani Abbas untuk mendirikan kekhalifahan. Ia bergabung dengan revolusi ini dengan menjadi sekretaris salah satu bawahan Abu Muslim Al-Khurasani[3]. Sepeninggal Mush’ab, jabatan walikota Pushang diteruskan oleh anaknya Al-Husain, kemudiah cucunya Tahir. Wangsa Tahir berdalih bahwa mereka adalah keturunan Rustum, pahlawan bangsa Persia yang masyhur. Tetapi riwayat lain menyatakan bahwa keluarga ini datang ke Pushang di bawah naungan seorang pemuka suku Arab Khuza’ah. Oleh karena itu, mereka juga disebut dengan orang-orang Khuza’ah karena persekutuan mereka dengan suku tersebut.
TAHIR BIN AL-HUSAIN DALAM PERSETERUAN ANTARA AL-AMIN DAN AL-MA’MUN
            Sosok Tahir bin Al-Husain baru muncul ke permukaan ketika ikut menemani Hartsamah bin A’yun salah seorang panglima khalifah Harun Ar-Rasyid untuk memadamkan pemberontakan Rafi’ bin Laits di Samarkand. Rafi’ yang mendengar reputasi baik Al-Ma’mun di Khurasan segera meminta perlindungan kepadanya dan hal itu dikabulkan.
            Ketika terjadi perselisihan antara Al-Ma’mun gubernur Khurasan dengan adiknya Al-Amin yang naik tahta menggantikan Ar-Rasyid, karena perbuatan Al-Amin yang mencopot Al-Mu’taman adiknya dari posisi deputi putra mahkota, Al-Ma’mun segera memutuskan hubungan pos antara Baghdad dan Khurasan. Korespondensi yang terjadi antara Al-Amin dan Al-Ma’mun tidak membuahkan hasil dan berujung pada pelengseran Al-Ma’mun dari posisi deputi putra mahkota pada tahun 195 H. Khalifah Al-Amin lalu memerintahkan pegawainya untuk merobek naskah perjanjian yang dahulu diadakan ayahnya Ar-Rasyid antara dirinya dengan Al-Ma’mun di depan Ka’bah. Maka, masuklah perseteruan keduanya pada fase bentrokan militer.
            Al-Amin mengutus Ali bin Isa bin Mahan dari Baghdad sebagai pimpinan pasukan yang berjumlah 40.000 orang untuk mengalahkan pasukan Al-Ma’mun. Sementara, Al-Ma’mun menyerahkan komando pasukannya kepada Tahir bin Al-Husain yang segera mengambil posisi di Ray. Pertempuran terjadi antara dua kubu, berakhir dengan kekalahan pasukan Al-Amin dan kematian panglima mereka Ali bin Isa. Kekalahan ini menimbulkan kepanikan di kota Baghdad. Dua pasukan Al-Amin berikutnya juga berhasil dipatahkan oleh Tahir bin Al-Husain yang memiliki semangat dan kepiawaian berperang yang tinggi. Lalu pasukan Al-Ma’mun berhasil menaklukkan seluruh wilayah timur kekhalifahan dan ia mendeklarasikan dirinya sebagai khalifah yang sah di wilayah tersebut. Kemudian, ia memerintahkan Tahir untuk bergerak menuju Al-Ahwaz dan menyerahkan komando atas kota-kota yang berhasil ditaklukkan kepada Hartsamah bin A’yun.
Tahir bin Al-Husain berhasil memasuki kota Baghdad setelah kemenangan yang gemilang terhadap pasukan-pasukan Al-Amin. Ia berhasil meyakinkan panglima-panglima Al-Amin untuk bergabung dengan pasukannya, yang bertambah kuat dari waktu ke waktu. Terjadi perbedaan pandangan antara Hartsamah dan Tahir tentang masalah Al-Amin. Hatsamah ingin mengadakan rekonsiliasi antara kedua saudara, ia bahkan memberikan jaminan hidup bagi Al-Amin dan memintanya untuk segera mendatanginya. Di sisi lain, Tahir menginginkan kematian Al-Amin sebagai wujud hukuman atas perbuatannya. Al-Amin yang sedang dalam perjalanan menuju ke tempat Hartsamah pun disergap oleh beberapa orang pasukan Tahir dan menemui ajalnya di tangan sekumpulan pasukan dari ras Persia. Kepala Al-Amin kemudian dikirim oleh Tahir kepada Al-Ma’mun di Khurasan yang menjadikan ia menyesal seumur hidup atas kecelakaan yang menimpa diri adiknya. Al-Ma’mun sebenarnya lebih ingin bertemu dengan Al-Amin dalam keadaan hidup dan merundingkan solusi perselisihan antara keduanya.

BERDIRINYA KEAMIRAN WANGSA TAHIR
            Sebagai imbalan atas jasa-jasanya, khalifah Al-Ma’mun melantik Tahir bin Al-Husain menjadi gubernur Al-Jazirah[4], di samping menjadi gubernur militer (syurtah) kota Baghdad. Beberapa anggota keluarganya juga diberi posisi yang strategis dalam pemerintahan Al-Ma’mun. Akan tetapi Tahir selalu menginginkan posisi gubernur Khurasan yang merupakan tanah kelahirannya. Al-Ma’mun yang menyadari hal itu khawatir akan ambisi Tahir menjadikan ia nantinya memerdekakan diri di Khurasan. Kekhawatiran ini diungkapkannya kepada menteri Ahmad bin Abu Khalid, yang menenangkan diri sang khalifah dan bersedia menjamin ketaatan Tahir kepadanya. Akhirnya, Al-Ma’mun melantik Tahir bin Al-Husain sebagai gubernur Khurasan, di samping posisi sebagai gubernur militer kota Baghdad.
            Terdapat persilangan pendapat di antara para sejarawan muslim tentang alasan penunjukan ini. Ada yang berpendapat bahwa penunjukan ini dimaksudkan untuk menjauhkan Tahir dari dinamika politik di Baghdad, mengingat bahwa ia adalah sosok yang memiliki ambisi politik yang tinggi serta pengaruh yang kuat. Sebagian lain berpendapat bahwa sebabnya adalah ketidaksenangan khalifah terhadap Tahir karena kejadian yang menimpa Al-Amin di masa lalu. Penunjukan ini dianggap sebagai pengusiran Tahir agar jauh dari Baghdad.  Namun, pendapat yang paling mendekati kebenaran adalah kepiawaian militer dan administrasi Tahir dianggap mampu untuk memadamkan gerakan-gerakan separatis yang berkelanjutan di Khurasan. Kepiawaian ini tidak dimiliki oleh gubernur Khurasan sebelumnya Ghassan bin Abbad.  Setelah itu, bergeraklah Tahir bin Al-Husain menuju Khurasan yang akhirnya tunduk di bawah kepemimpinannya pada tahun 205 H. Tahir kemudian menjadikan kota Merv sebagai ibukota dari provinsi Khurasan. Tahir menggunakan gelar “amir” selama memerintah di wilayah Khurasan.
            Amir Tahir tetap menjadi gubernur Khurasan hingga tahun 207 H. Berkat ambisi tingginya, sejak lama ia menginginkan kemerdekaan Khurasan dari pemerintahan Bani Abbas. Akan tetapi, hal itu belum terwujud hingga datang tahun tersebut. Saat itu amir Tahir menyampaikan khutbah Jum’at tanpa mendoakan khalifah Al-Ma’mun. Terlepas dari kesengajaan atau tidaknya, perbuatan ini dianggap bentuk dari kedurhakaan terhadap khalifah, karena berdoa untuk pemimpin dalam khutbah adalah simbol pengakuan terhadap kepemimpinan seseorang. Saat itu hadir petugas pos Khurasan, Kultsum bin Tsabit yang merupakan orang kepercayaan Al-Ma’mun. Selain itu, kewajiban petugas pos adalah memberitakan setiap kejadian yang ada secara langsung kepada khalifah. Maka, Kultsum segera beranjak dari tempatnya dan pulang ke rumah. Ia segera bersiap untuk menghadapi kematian, karena sewaktu-waktu bisa saja sang amir menyergapnya. Setelah ia melepas pakaian hitam[5],  menggantinya dengan warna putih dan mandi wajib; ia menulis surat kepada Al-Ma’mun memberitahukannya tentang apa yang terjadi. Setelah shalat Asar, amir Tahir sempat memanggil Kultsum. Namun, tiba-tiba ia jatuh sakit dan meninggal seketika.


Bersambung...


[1] Sebuah wilayah di timur kekhalifahan Dinasti Abbasiyah yang meliputi tanah-tanah negeri Persia. Kota-kota besarnya adalah Nishapur, Tus (kini di Iran), Heart, Balkh, dan Kabul (kini di Afghanistan), Merv (kini di Turkmenistan), Samarkand, dan Bukhara (kini di Uzbekistan).
[2] Pushang: dalam Bahasa Arab dikenal sebagai Bushanj, Bushang, Fusanj dan Pushanj. Sebuah kota kecil di Khurasan yang berdekatan dengan kota Herat. Kota ini telah mengalami beberapa kali kehancuran dan pembangunan kembali. Di zaman modern, sebuah kota kecil dibangun berdekatan dengan lokasi kota lama dan dinamakan Ghurian.
[3] Panglima besar revolusi Bani Abbas di Khurasan terhadap kekhalifahan Dinasti Umayyah. Namun kemudian karena tidak mematuhi khalifah Dinati Abbasiyah yang kedua, Abu Ja’far Al-Mansur dan menjadi ancaman bagi negara, ia dibunuh oleh salah seorang panglima Al-Mansur.
[4] Al-Jazirah: sebuah daerah di Irak yang dikelilingi oleh dua sungai Eufrat dan Dajlah.
[5] Pakaian hitam saat itu merupakan simbol pakaian Dinasti Abbasiyah, sementara pakaian hijau adalah simbol kaum ‘Alawiyyin (keturunan Ali bin Abi Thalib-red).



DAFTAR PUSTAKA:
  • Al-‘Alam Al-Islami fil Ashr Al-Abbasi: Ahmad Ibrahim Syarif dan Hasan Ahmad Mahmud.
  • Al-Uyun wal Hadaiq fi Akhbar Al-Haqaiq: penulisnya tidak diketahui.
  • Atlas At-Tarikh Al-Arabi Al-Islami: Dr. Syauqi Abu Khalil.
  • Baghdad: Ibnu Thaifur (wafat tahun 280 H), tahqiq: Muhammad Abul Fadhl Ibrahim.
  • Khurasan At-Tarikhiyah fi Dhou’ Al-Mashadir Al-Arabiyyah Al-Islamiyah: Jamaluddin Falih Al-Kailani.
  • Tarikh Ad-Daulah Al-Abbasiyah – Al-‘Ashr Al-Abbasi Al-Awwal: Ahmad Ismail Al-Jaburi.
  • Tarikh Ad-Duwal Al-Islamiyah fi Asia: Yasir Abdul Jawwad Al-Masyhadani.
  • Tarikh Al-Islam wa Wafayat Al-Masyahir wal A’lam: Imam Adz-Dzahabi (wafat tahun 748 H), tahqiq: Umar Abdussalam Tadmuri.
  • Tarikh Al-Khulafa’: Imam Jalaluddin Suyuthi (wafat tahun 911 H).
  • Tarikh ar-Rusul wal Muluk: Imam Ibnu Jarir At-Thabari (wafat tahun 310 H).
  • Tarikh Iran Ba’da Al-Islam: Abbas Iqbal Isytiyani, terjemah Muhammad Alauddin Mansur.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Comments