Blog penggemar studi sejarah dan peradaban Islam

Selembayung

Selembayung

Breaking

Rabu, 07 Juni 2017

KEAMIRAN WANGSA TAHIR DI KHURASAN (205-259 H) (BAG. 2 DARI 3)


Kultsum pun segera keluar menuju Baghdad untuk menemui khalifah. Namun, Talhah bin Tahir yang datang dari Sijistan setelah mendengar kematian ayahnya segera memerintahkan agar Kultsum dipanggil ke hadapannya.
Talhah berkata, “Apakah kejadian ini telah kamu beritakan kepada khalifah?”
Kultsum menjawab, “Sudah”.
 “Beritakan pula padanya tentang kematian ayahku!”, Talhah menimpali.
Kultsum pun memberitakan kematian Tahir dan pengambil alihan komando pasukan oleh Talhah. Ketika suratnya sampai kepada Al-Ma’mun, ia segera memanggil Kultsum.
Al-Ma’mun berujar, “(Tahir) telah meninggal. Siapa menurutmu (yang pantas menggantikannya)?”.
“Putranya Talhah”, jawab Kultsum.
“Tepat sekali! Tulis surat penunjukannya sebagai gubernur (Khurasan)”.
Maka, diterbitkanlah keputusan khalifah tentang penunjukan Talhah bin Tahir sebagai gubernur Khurasan.
            Talhah bin Tahir merupakan bupati Sijistan di zaman ayahnya Tahir bin Al-Husain. Setelah mendengar kabar wafatnya ayahnya, ia segera mendatangi Khurasan dan meninggalkan Sijistan di bawah kuasa Ilyas bin Asad As-Samani. Amir Talhah telah banyak berjasa dalam menumpas gerakan separatisme di Sijistan, yang dipimpin langsung oleh dirinya. Salah satu prestasinya adalah memadamkan gerakan separatisme yang dipimpin oleh Hamzah Al-Khariji.  Amir Talhah wafat pada tahun 213 H. Posisi gubernur Khurasan kemudian dipercayakan kepada saudaranya, Abdullah bin Tahir yang tengah sibuk memadamkan revolusi Babak Al-Khurrami[1] di Thabaristan. Maka amir Abdullah mengirimkan adiknya Ali bin Tahir untuk mewakilinya dalam memulihkan situasi di Khurasan. Namun, Ali gagal dalam meredam gerakan separatisme yang ada, sehingga khalifah Al-Ma’mun meminta Abdullah bin Tahir untuk datang sendiri ke Khurasan guna mengendalikan situasi. Amir Abdullah sampai di Khurasan pada tahun 214 H.
            Penunjukan ini adalah bukti kepercayaan khalifah terhadap Abdullah, yang telah banyak berjasa kepada kekhalifahan dalam mengamankan beberapa wilayah seperti Syam dan Mesir. Hal ini melegalkan sistem monarki yang dipercayakan kepada keluarga Tahir bin Al-Husain dalam memegang pemerintahan wilayah Khurasan. Tidak mungkin posisi ini dipindahkan ke tangan keluarga lain, karena pengaruh wangsa Tahir yang kuat di wilayah tersebut. Bahkan, khalifah Al-Mu’tasim yang menggantikan Al-Ma’mun tidak berani mencopot amir Abdullah bin Tahir dari posisi gubernur Khurasan, walaupun ia tidak suka dengannya. Al-Mu’tasim hanya berani mengadakan konspirasi secara diam-diam untuk menggulingkan Abdullah. Sang amir yang akhirnya mengetahui rencana tersebut, tidak lantas memberontak kepada khalifah. Hanya saja, ia tidak pernah meninggalkan Khurasan hingga akhir hayatnya, serta mengurungkan diri untuk pergi haji ke Mekkah.
            Keamiran ini mencapai puncak kejayaannya di masa Abdullah bin Tahir. Ia adalah sosok penyair dan sastrawan, serta berkepribadian adil dan bijaksana. Ia memindahkan ibukota Khurasan ke Nishapur dan mengadakan pembangunan besar-besaran di dalamnya. Amir ini memperhatikan bidang pertanian dengan memerintahkan penggalian kanal-kanal, membagikan air kepada penduduk dan memperbaiki pengairan.
            Amir Abdullah juga tidak melupakan para pemberontak dan separatis yang ingin memerdekakan diri dari kekhalifahan. Ia berhasil menumpas gerakan mereka di Nishapur, selain mencerai-beraikan barisan mereka di Sijistan. Salah satu gerakan separatisme terbesar yang dipimpin oleh Al-Qasim bin Amr di Taleqan berhasil dipatahkan olehnya, pemimpinnya ditangkap dan dikirim ke penjara di Samarra. Gerakan yang paling berbahaya adalah pemberontakan yang dipimpin oleh Al-Maziyar bin Qarin di Thabaristan pada tahun 224 H. Gerakan ini tujuannya adalah memisahkan diri dari kekhalifahan dan menjadikan sekte Babak Al-Khurrami sebagai kepercayaan resmi.  Maka, amir Abdullah meminta bantuan khalifah Al-Mu’tasim untuk menumpas gerakan ini. Khalifah pun segera mengirim bala bantuan ke Thabaristan. Amir Abdullah turut mengirimkan pasukan yang dipimpin oleh pamannya Al-Hasan bin Al-Husain dan sekutunya Hayyan bin Jibillah serta terus mengirimkan bala bantuan kepada mereka berdua hingga akhirnya gerakan tersebut dapat ditumpas dan Al-Maziyar berhasil ditangkap. Ia pun dikirim ke khalifah Al-Mu’tasim yang memerintahkan agar ia dihukum cambuk hingga mati, kemudian jasadnya disalib di sisi Babak Al-Khurrami.
            Kemudian, amir Abdullah mengadakan perluasan dengan mengirim putranya Tahir II bin Abdullah ke daerah-daerah yang belum dijangkau oleh pasukan kekhalifahan di  tanah bangsa Turk Al-Ghuri di negeri Transoxiana[2]. Wilayah keamiran ini pun bertambah luas meliputi Khurasan, Ray, Thabaristan, Kerman dan daerah-daerah sekitarnya. Abdullah wafat pada tahun 230 H setelah hidup yang penuh dengan khidmah yang membanggakan dan prestasi yang gemilang.
            Setelahnya, khalifah Al-Watsiq menyetujui penunjukan Tahir II bin Abdullah sebagai gubernur Khurasan. Pemerintahan amir Tahir II berlangsung selama 18 tahun dan jarang menghadapi peristiwa-peristiwa yang berbahaya karena keadaan Khurasan yang stabil dan aman.
HUBUNGAN KEAMIRAN WANGSA TAHIR DENGAN KHILAFAH ABBASIYAH
            Bisa dikatakan bahwa hubungan keduanya cukup mesra dan baik, dengan pengecualian ambisi amir Tahir I bin Al-Husain yang ingin memerdekakan diri. Khalifah Al-Ma’mun segera menyetujui penunjukan Talhah bin Tahir I setelah kematian ayahnya pada tahun 207 H. Jabatan gubernur militer kota Baghdad juga dipertahankan untuk wangsa Tahir. Mereka pun kemudian menunjukkan ketulusan dalam mengabdi, tidak menunjukkan keinginan untuk memisahkan diri, mengirimkan pajak tahunan secara rutin, serta saling bekerjasama dalam menghadapi gerakan separatisme di negeri Persia dan Khurasan. Penunjukan anggota wangsa Tahir sebagai gubernur Khurasan secara berturut-turut merupakan bukti restu dan kepercayaan kekhalifahan  terhadap pemerintahan mereka, di samping pengaruh keluarga mereka yang kuat di wilayah tersebut.
            Contoh terbaik atas mesranya hubungan ini adalah sosok amir Abdullah bin Tahir I. Sebelum diangkat menjadi gubernur Khurasan, ia terlebih dahulu ditunjuk sebagai gubernur Mesir, kemudian Syam sekaligus bertugas mengamankan daerah-daerah tersebut dari gerakan pemberontakan yang banyak terjadi. Setelah wafatnya amir Talhah, ia pun diutus menjadi gubernur Khurasan oleh khalifah Al-Ma’mun. Di zamannya, ia berhasil memadamkan gerakan-gerakan separatisme, seperti gerakan kaum ‘Alawiyyin di Khurasan dan Thabaristan, serta gerakan Al-Maziyar bin Qarin pada masa kekhilafahan Al-Mu’tasim Billah. Kadang, ia menggunakan kekuatannya sendiri dan di saat lain, ia meminta bala bantuan dari pasukan kekhalifahan.

Bersambung.....

[1] Babak Al-Khurrami adalah pimpinan sekte Khurramiyah, yang pokok pemikirannya adalah campuran antara akidah Syiah dan Zoroastrianisme. Sekte ini muncul sebagai respon atas terbunuhnya Abu Muslim Al-Khurasani di tangan pemerintahan Dinasti Abassiyah, serta meyakini bahwa Abu Muslim tidak mati dan akan kembali sebagai juru selamat. Di tangan Babak, sekte Khurramiyah berkembang menjadi sekte yang menghalalkan darah untuk mengembangkan pemikiran mereka, serta melegalkan segala jenis maksiat, termasuk berkongsi harta dan wanita.
[2] Transoxiana: dikenal dalam Bahasa Arab dengan bilad ma war’a an-nahr (negeri di balik sungai). Daerah ini terletak di delta antara sungai Jihon (Amu Darya) dan sungai Seihon (Syr Darya), dikenal dengan tanah bangsa Turk. Saat ini, wilayah tersebut sebagian besar masuk dalam negara Uzbekistan. Sisanya dibagi antara wilayah selatan negara Tajikistan, Turkmenistan dan Kazakhstan.



DAFTAR PUSTAKA:

  • Al-‘Alam Al-Islami fil Ashr Al-Abbasi: Ahmad Ibrahim Syarif dan Hasan Ahmad Mahmud.
  • Al-Uyun wal Hadaiq fi Akhbar Al-Haqaiq: penulisnya tidak diketahui.
  • Atlas At-Tarikh Al-Arabi Al-Islami: Dr. Syauqi Abu Khalil.
  • Baghdad: Ibnu Thaifur (wafat tahun 280 H), tahqiq: Muhammad Abul Fadhl Ibrahim.
  • Khurasan At-Tarikhiyah fi Dhou’ Al-Mashadir Al-Arabiyyah Al-Islamiyah: Jamaluddin Falih Al-Kailani.
  • Tarikh Ad-Daulah Al-Abbasiyah – Al-‘Ashr Al-Abbasi Al-Awwal: Ahmad Ismail Al-Jaburi.
  • Tarikh Ad-Duwal Al-Islamiyah fi Asia: Yasir Abdul Jawwad Al-Masyhadani.
  • Tarikh Al-Islam wa Wafayat Al-Masyahir wal A’lam: Imam Adz-Dzahabi (wafat tahun 748 H), tahqiq: Umar Abdussalam Tadmuri.
  • Tarikh Al-Khulafa’: Imam Jalaluddin Suyuthi (wafat tahun 911 H).
  • Tarikh ar-Rusul wal Muluk: Imam Ibnu Jarir At-Thabari (wafat tahun 310 H).
  • Tarikh Iran Ba’da Al-Islam: Abbas Iqbal Isytiyani, terjemah Muhammad Alauddin Mansur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Comments