Blog penggemar studi sejarah dan peradaban Islam

Selembayung

Selembayung

Breaking

Jumat, 09 Juni 2017

KEAMIRAN WANGSA TAHIR DI KHURASAN (205-259 H) (BAG. 3 DARI 3)

Oleh: Haikal Alghomam Suhardi, BA
        Kerjasama yang baik ini menambah kepercayaan khalifah Al-Ma’mun padanya. Bahkan Al-Mu’tasim yang tidak menyukainya hanya berani mengadakan konspirasi secara diam-diam untuk membunuh sang amir. Usaha ini tidak kunjung membuahkan hasil. Amir Abdullah yang akhirnya mengetahui rencana tersebut, tidak lantas memberontak kepada khalifah, tetapi tetap menunjukkan kesetiaan dan i’tikad baik. Ketika ia wafat, khalifah Al-Watsiq ingin menunjuk orang lain di luar wangsa Tahir sebagai gubernur Khurasan. Namun keputusan tersebut dengan cepat dirubah olehnya sebelum keberangkatan sang gubernur baru. Akhirnya, ia menyetujui penunjukan Tahir II sebagai pengganti ayahnya.
        Sebagai balasan atas khidmah yang besar dan prestasi yang membanggakan ini, pihak kekhalifahan menghargai mereka dan menjadikan mereka sebagai orang-orang terdekat khalifah. Kekhalifahan memihak pada wangsa Tahir ketika terjadi konflik antara mereka dengan wangsa Saffar[1] yang berhasil meruntuhkan keamiran mereka di Khurasan tahun 259 H. Setelah itu, jabatan gubernur militer Baghdad tetap dipertahankan untuk anggota keluarga wangsa Tahir hingga tahun 310 H, setengah abad setelah runtuhnya keamiran mereka.
KEMAJUAN ILMU PENGETAHUAN DAN PERKEMBANGAN EKONOMI
         Para amir wangsa Tahir sangat memperhatikan keadaan rakyat mereka dengan sebaik-baiknya. Zaman itu adalah masa yang bersinar dengan ilmu pengetahuan dan budaya, serta menitikberatkan pada perkembangan ekonomi dan administrasi pemerintahan. Masuknya bangsa Arab ke tanah Persia memulai pembelajaran bahasa Arab secara luas di wilayah tersebut hingga menjadi bahasa resmi dalam korespondensi dan administrasi. Perhatian para amir wangsa Tahir terhadap budaya Arab dibandingkan budaya Persia dapat dikatakan didasari oleh pemahaman mereka bahwa budaya Persia banyak menyalahi aturan Islam. Dari awal, mereka telah banyak mendatangkan para sastrawan Arab dan ulama ke negeri Khurasan. Buktinya, ketika amir Abdullah bin Tahir I ditunjuk menjadi gubernur Khurasan oleh khalifah Al-Ma’mun, ia meminta izin untuk ditemani oleh sejumlah ulama kota Baghdad. Siasat politik Abdullah yang membuka lebar kesempatan bagi tiap orang juga membuahkan hasil. Dalam hal ini, amir Abdullah berpendapat, “Mencurahkan diri untuk ilmu merupakan kewajiban para ulama dan bukan ulama. Ilmu itu lebih kebal untuk tidak dipegang oleh yang bukan ahlinya”.
        Khazanah kitab para amir wangsa Tahir dipenuhi oleh kitab-kitab para ulama. Di antaranya adalah kitab-kitab Imam Abu Ubaid Al-Qasim bin Sallam (wafat tahun 224 H) dalam berbagai tema dan bahasan. Kitab-kitab ini sempat dilihat oleh Al-Khatib Al-Baghdadi[2] dijual dari harta warisan sebagian anggota wangsa Tahir.
            Para amir ini juga mendekatkan diri kepada para ulama. Ahli hadits Ishaq bin Ibrahim Al-Hanzholi yang dikenal dengan nama Imam Ibnu Rahawaih (wafat tahun 238 H) memiliki kedudukan yang tinggi di sisi amir Abdullah bin Tahir I. Ahli hadits Yahya bin Yahya Abu Zakariya An-Naisaburi (wafat tahun 226 H) juga merupakan orang terdekatnya. Ulama-ulama lain banyak yang mendatanginya guna menunaikan hajat mereka dari amir Abdullah bin Tahir I yang memuliakan para ulama karena kedekatannya dengan Yahya bin Yahya. Salah satu bentuk perhatian amir Abdullah terhadap kemajuan ilmu pengetahuan adalah memuliakan para ulama dengan menyediakan tempat-tempat tinggal bagi mereka yang datang ke Khurasan, dengan harapan hal ini dapat membantu lancarnya praktik pengajaran.   
        Contoh lainnya adalah ketika ia mendatangkan ahli tafsir Al-Husain bin Al-Fadhl Al-Bijilli dari Kufah (wafat tahun 282 H) ke Nishapur pada tahun 217 H, ia tempatkan sang ‘alim di rumah yang dibelinya sendiri. Beliau pun menetap di Khurasan untuk mengajar selama 65 tahun hingga akhir hayatnya. Selain itu, amir Abdullah juga sering mengadakan majlis bersama para ulama dan meminta saran mereka dalam keputusan-keputusan penting.
         Sedangkan dalam bidang ekonomi, para amir wangsa Tahir memprioritaskan bidang agraria dan sarana pengembangannya. Mereka senantiasa memperketat sistem serta pengawasan terhadap para pegawai di bidang tersebut. Pegawai yang lalim terhadap rakyat dikenai hukuman cambuk. Amir Abdullah bin Tahir I sering berpesan kepada para pegawai agar memperhatikan para petani dan menunaikan hak-hak mereka. Mengenai ini ia berkata, “Sesungguhnya Allah memberi kita makan dari tangan-tangan mereka (para petani), memberi kita rahmat melalui doa-doa mereka, dan Ia melarang kita untuk berbuat buruk kepada mereka”.

RUNTUHNYA KEAMIRAN WANGSA TAHIR
       Sepeninggal Tahir II tahun 248 H, keamiran dipegang oleh putranya Muhammad bin Tahir II atas persetujuan khalifah Al-Musta’in Billah. Amir Muhammad adalah sosok yang lemah dan lalai, serta lebih suka befoya-foya lagi suka berkelakar. Karena kelemahan dirinya dalam mengatur administrasi, para pegawainya –termasuk pamannya Sulaiman bin Abdullah yang menguasai sebagian daerah Thabaristan- menjadi semena-mena terhadap rakyat jelata. Ini yang akhirnya memicu pemberontakan penduduk Thabaristan terhadap pemerintahan Sulaiman dan lebih memilih dikuasai oleh kaum ‘Alawiyyin[3]. Husain bin Zaid yang merupakan da’i kaum ‘Alawiyyin berhasil memukul mundur Sulaiman dan pasukannya keluar dari Thabaristan. Thabaristan pun jatuh di tangan kaum ‘Alawiyyin yang berhasil mendirikan kerajaan mereka yang menganut paham Syiah Zaidiyah pada tahun 250 H.
       Pada tahun 248 H, kekuatan Ya’qub bin Laits dari wangsa Saffar di Sijistan menjadi semakin kuat berkat melemahnya kekuatan wangsa Tahir. Pasukan wangsa Saffar berhasil menaklukkan sebagian besar daerah di Khurasan dan memasuki kota Herat. Pada tahun 259 H, mereka mendekati Nishapur ibukota keamiran wangsa Tahir. Melalui sebagian keluarganya, Ya’qub berhasil meminta izin dari amir Muhammad bin Tahir II untuk memasuki kota Nishapur dan tinggal di salah satu sudut kota. Amir Muhammad pun keluar untuk menemui Ya’qub, namun pertemuan mereka tidak berjalan dengan lancar. Akhirnya Ya’qub bin Laits mewakilkan Nishapur kepada salah seorang bawahannya yang bernama Aziz. Aziz kemudian berhasil menangkap dan memenjarakan amir Muhammad beserta keluarganya. Dengan begitu, berakhirlah kekuasaan wangsa Tahir di wilayah Khurasan. 
        Ketika kabar ini terdengar ke telinga khalifah Al-Musta’in, Ya’qub beralasan bahwa penaklukannya terjadi atas permintaan penduduk Khurasan, yang menyuratinya agar menstabilkan keadaan yang semakin kacau balau di sana. Ketika itu perampokan dan kejahatan menyebar di mana-mana akibat ketidak mampuan pemerintah wangsa Tahir dalam mengamankan keadaan negeri.  Maka ketika Ya’qub mendekati kota Nishapur, ia disambut oleh para penduduk kota yang lantas menyerahkan kota mereka kepada Ya’qub. Namun, hal ini tidak dibenarkan dan dikecam oleh khalifah, karena wangsa Tahir merupakan penguasa Khurasan yang sah. Selain itu, Ya’qub telah dibebani tugas lain oleh khalifah, yang belum dipenuhi olehnya. Bahkan khalifah memerintahkan agar dibacakan surat resmi di hadapan para jamaah haji asal Khurasan bahwa pemerintahan Ya’kub adalah pemerintahan separatis yang belum mendapatkan legalitas dari pihak kekhalifahan. Setelah runtuhnya keamiran ini, anggota wangsa Tahir tetap menjabat sebagai gubernur militer kota Baghdad sampai tahun 310 H.



[1] Wangsa Saffar: bermula dari gerakan sukarelawan yang membantu kekhilafahan Dinasti Abbasiyah untuk menumpas gerakan separatis di Sijistan. Gerakan ini kemudian berhasil mendirikan pemerintahan dinasti Saffar di Sijistan, meluas ke Khurrasan hingga hampir mendekati Baghdad.
[2] Abu Bakr Ahmad bin Ali bin Tsabit bin Ahmad bin Mahdi Asy-Syafi`i, lebih dikenal sebagai Al-Khatib Al-Baghdadi (wafat tahun 463 H) adalah seorang ulama ahli hadis dan sejarawan.
[3] Kaum ‘Alawiyyin di Thabaristan berhasil mendirikan negara mereka setelah mengusir pasukan Wangsa Tahir. Negara ini menganut paham Syiah Zaidiyah yang menisbatkan diri kepada Zaid bin Ali bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib.


DAFTAR PUSTAKA:

  • Al-‘Alam Al-Islami fil Ashr Al-Abbasi: Ahmad Ibrahim Syarif dan Hasan Ahmad Mahmud.
  • Al-Uyun wal Hadaiq fi Akhbar Al-Haqaiq: penulisnya tidak diketahui.
  • Atlas At-Tarikh Al-Arabi Al-Islami: Dr. Syauqi Abu Khalil.
  • Baghdad: Ibnu Thaifur (wafat tahun 280 H), tahqiq: Muhammad Abul Fadhl Ibrahim.
  • Khurasan At-Tarikhiyah fi Dhou’ Al-Mashadir Al-Arabiyyah Al-Islamiyah: Jamaluddin Falih Al-Kailani.
  • Tarikh Ad-Daulah Al-Abbasiyah – Al-‘Ashr Al-Abbasi Al-Awwal: Ahmad Ismail Al-Jaburi.
  • Tarikh Ad-Duwal Al-Islamiyah fi Asia: Yasir Abdul Jawwad Al-Masyhadani.
  • Tarikh Al-Islam wa Wafayat Al-Masyahir wal A’lam: Imam Adz-Dzahabi (wafat tahun 748 H), tahqiq: Umar Abdussalam Tadmuri.
  • Tarikh Al-Khulafa’: Imam Jalaluddin Suyuthi (wafat tahun 911 H).
  • Tarikh ar-Rusul wal Muluk: Imam Ibnu Jarir At-Thabari (wafat tahun 310 H).
  • Tarikh Iran Ba’da Al-Islam: Abbas Iqbal Isytiyani, terjemah Muhammad Alauddin Mansur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Comments