Blog penggemar studi sejarah dan peradaban Islam

Selembayung

Selembayung

Breaking

Minggu, 31 Mei 2020

EKSPANSI DINASTI UMAYYAH DI NEGERI TRANSOXIANA (BILAAD MAA WARA'A AN-NAHR)

Negeri Transoxiana (negeri di seberang Sungai Oxus) adalah sebuah kawasan kuno yang terletak di delta Sungai Amudarya (Arab: Jayhun/ Jihun, Yunani: Oxus) dan Sungai Syrdarya (Arab: Sihun, Yunani: Yaxartes). Istilah yang berasal dari bahasa Latin tersebutlah yang dikenal oleh para sejarawan Barat. Adapun kaum muslimin sejak masa futuuhat islamiyah (ekspansi/ perluasan wilayah Islam) mengenalnya dengan nama Bilaad Maa Wara'a An-Nahr (negeri di seberang sungai). Istilah Persia untuk kawasan itu adalah Fararud (negeri di seberang sungai). Kawasan ini sekarang merupakan bagian dari 5 negara di Asia Tengah: Kazakhstan, Kirgizstan, Tajikistan, Uzbekistan dan Turkmenistan. Ia terkenal akan kesuburan tanah dan ketersediaan air, dihuni oleh suku-suku bangsa Turk. Pada masa periode ekspansi Islam, ia terbagi menjadi beberapa propinsi atau kerajaan:
1. Propinsi Tokharistan, ibukotanya Balkh, yang terletak di kedua tepi Sungai Jihun.
2. Propinsi As-Sughd (Sogdia) yang meliputi kota Bukhara dan Samarkand.
3. Propinsi Khwarizm yang terletak di delta Sungai Jihun, berpusat di Jurjaniyah (Gurganj/ Urgench).
4. Propinsi Khuttal di bagian atas Sungai Jihun. Ibukotanya Hulbuk. Keempat kerajaan ini disebut dengan Kerajaan-kerajaan Jihun. 
5. Propinsi Ferghana di tepi sungai Sihun, kota Kokhand termasuk dalam propinsi ini.
6. Propinsi Osrušana di timur Ferghana, dihuni oleh bangsa Hun Putih. Pemimpin mereka bergelar Afshin.
7. Propinsi Shash (Chach) di tepi sungai Sihun yang sekarang dikenal dengan Tashkent, ibukota Uzbekistan. Ketiga kerajaan terakhir disebut Kerajaan-kerajaan Sihun.
Peta negeri Transoxiana dan sekitarnya pada abad 8 Masehi. Sumber gambar: Wikimedia
Saat Khalifah Utsman bin Affan radhiyallahu anhu wafat tahun 35 H, umat Islam tersibukkan dengan konflik internal. Ekspansi Islam ke wilayah-wilayah timur pun terhenti, sampai-sampai penduduk kawasan tersebut banyak yang melepaskan diri.  Kemudian saat Muawiyah bin Abu Sufyan radhiyallahu anhu mendirikan dinasti baru, ia berupaya untuk mengokohkan kuasa dan mengembalikan kendali atas daerah tersebut. Penunjukan Ubaidillah bin Ziyad sebagai gubernur wilayah Khurasan setelah kematian ayahnya tahun 54 H adalah buktinya. Ibnu Ziyad berhasil menegakkan kembali pengaruh dinasti Umayyah atas negeri tersebut. Tidak cukup sampai di situ, ia bahkan berhasil menyeberangi Sungai Jihun dengan mengendarai unta hingga sampai ke pengunungan Bukhara. Dari sana, ia berhadapan dengan bangsa Turk dan berhasil menaklukkan kota Paikent (Baykand) dan Bukhara. Ia memperoleh harta rampasan yang amat banyak dari penaklukan itu dan berhasil memaksa keduanya untuk membayar jizyah. Setelah memerintah Khurasan selama dua tahun, ia kembali ke Basrah untuk menerima jabatan sebagai gubernurnya. 
Lalu, Muawiyah menunjuk Said bin Utsman bin Affan menggantikannya sebagai gubernur Khurasan. Tidak lama kemudian, ia juga menyeberangi Sungai Jihun untuk menghadapi suku Sogdiana. Pasukan Said berhasil mengepung mereka, hingga akhirnya mereka menerima perundingan damai dan menyerahkan 50 orang putra tokoh-tokoh mereka untuk dijadikan sebagai jaminan. Ia lalu melanjutkan ekspansi hingga ke Tirmidz dan berhasil menaklukkannya secara damai. Dalam pasukannya, ikut serta Qutsam putra Abbas bin Abdul Mutthalib paman Nabi radhiyallahu anhu.
Ekspansi wilayah timur ini kembali terhenti saat wafatnya Khalifah Muawiyah dan umat Islam kembali mengalami konflik internal. Kaum muslimin di negeri-negeri timur yang telah ditaklukkan ini berada dalam posisi defensif terhadap serangan bangsa Turk dan pemberontakan penduduk negeri. Pemberontakan ini bahkan menjalar hingga ke Nishapur dan menyebabkan pemerintahan Islam harus kehilangan banyak wilayah yang dahulu telah berhasil ditaklukkan. 
Keadaan terus demikian hingga Abdul Malik bin Marwan berhasil meraih tampuk kepemimpinan Dinasti Umayyah dan segera menunjuk Hajjaj bin Yusuf untuk memegang wilayah Irak dan timur. Ekspansi wilayah timur kembali aktif di bawah kendali pegawai-pegawai dan panglima-panglima Hajjaj atas Khurasan, bermula dari Muhallab bin Abu Sufrah yang menjadi gubernur tahun 78 H setelah ia selesai dari menumpas pemberontakan sekte Khawarij Azariqah. 
     
Ekspansi negeri Transoxiana di masa Muhallab bin Abu Sufrah (ditunjukkan oleh panah tebal putus-putus). Sumber gambar; Wikimedia
     Muhallab lantas menyeberangi Sungai Balkh dan berhasil menundukkan kota Kish tahun 80 H. Kemudian ia didatangi oleh sepupu Al-Syabal Raja Khuttal yang membujuk agar ia mendukungnya dalam memerangi sepupunya. Ia mengutus putranya Yazid untuk membantu pangeran tersebut dan berhasil memaksa Al-Syabal untuk membayar tebusan. Selanjutnya, ia mengutus Habib, putranya yang lain untuk menaklukkan Bukhara. Muhallab menetap di Kish hingga wafatnya dua tahun kemudian. Jabatannya sebagai gubernur Khurasan digantikan oleh putranya Yazid, dan tiga tahun kemudian oleh Mufaddhal, putranya yang lain. Yang terakhir ini kemudian dicopot oleh Hajjaj dan digantikan oleh Qutaibah bin Muslim Al-Bahili tahun 85 H.
Ekspansi negeri Transoxiana memasuki tahap penentuan di bawah kendali Qutaibah. Hal itu berkat kecakapannya sebagai pemimpin, tekad serta dorongan Hajjaj sebagai gubernur, serta kekuatan dan wibawa Dinasti Umayyah. Qutaibah merupakan sosok negarawan, penentu kebijakan, dan penggagas sistem dan tata kelola. Ia berhasil memadamkan konflik kesukuan di antara suku-suku Arab Khurasan dan menyatukan mereka di bawah bendera perjuangan. Di sisi lain, ia juga baik dan dekat dengan penduduk Khurasan, ia berikan kedudukan-kedudukan kepada mereka sehingga ia pun dicintai dan dipercaya oleh rakyat. Qutaibah mengalami empat tahapan dalam menaklukkan negeri Transoxiana, yaitu:
  • Tahap pertama (86-87 H): menundukkan propinsi Tokharistan yang merupakan pijakan utama dalam menundukkan seluruh negeri. Sampai-sampai jika raja-raja negeri tersebut mendengar kedatangannya, mereka segera meminta perjanjian damai. 
  • Tahap kedua (87-90 H): menaklukkan propinsi Bukhara setelah melalui peperangan sengit dan kegigihan dalam bertempur.
  • Tahap ketiga (91-93 H): menaklukkan negeri-negeri Jihun yang tersisa, kemudian negeri Sijistan tahun 92 H dan propinsi Khwarizm tahun 93 H. Di antara capaian terbesarnya pada tahap ini adalah takluknya Samarkand yang merupakan kota terbesar di seluruh Transoxiana.
Salah satu kisah terbaik dalam penaklukan Samarkand adalah penduduk negeri itu meyakini bahwa siapapun yang berani mengusik patung-patung sembahan mereka akan binasa. Maka kemudian pasukan Islam pun mengumpulkan patung-patung tersebut dan membakarnya. Saat para penduduk melihat bahwa kaum muslimin tidak apa-apa, banyak dari mereka berbondong-bondong masuk Islam.  
  • Tahap keempat (94-96 H): penaklukan tiga negeri Sihun: Chach, Osrušana dan Ferghana. Setelah itu ia memasuki Kashgar, kota di perbatasan Tiongkok dan mendirikan basis Islam di sana. Sebenarnya ia telah bersiap untuk memulai ekspansi lebih jauh ke dalam negeri Tiongkok. Namun wafatnya Hajjaj tahun 95 H dan Khalifah Walid bin Abdul Malik tahun 96 H, menyebabkan ekspansinya terhenti sampai di situ. Walau demikian, ia berhasil memaksa penguasanya untuk membayar jizyah.
Setelah itu, Dinasti Umayyah maju-mundur dalam mengokohkan posisi mereka di negeri Transoxiana. Pengaruh mereka secara resmi pudar dengan wafatnya gubernur Khurasan terakhir dari Dinasti Umayyah, Nasr bin Sayyar tahun 131 H. Walau bagaimanapun juga, bendera kekhalifahan Dinasti Umayyah telah terpancang di kawasan ini selama kurang lebih 45 tahun, dengan catatan bahwa penaklukan seluruh negeri baru berhasil dicapai tahun 96 H di masa pemerintahan Qutaibah bin Muslim.

Disarikan dari:
  • Al-Kamil fi At-Tarikh: Ibnu Atsir, jilid 3-4 cet. Al-Maktabah Al-Ashriyah. 
  • Mujaz 'an Al-Futuhat Al-Islamiyah: Toha Abdul Maqsud Abdul Hamid Abu Ubayyah, cet. Dar Nasyr lil Jamiat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Comments