Blog penggemar studi sejarah dan peradaban Islam

Selembayung

Selembayung

Breaking

Rabu, 31 Maret 2021

Mengungkap Perjuangan Anti-Kolonialisme Islam dalam Buku Dari Perbendaharaan Lama Karya Hamka

 

Deskripsi Buku

Judul               : Dari Perbendaharaan Lama: Menyingkap Sejarah Islam Di Nusantara

Pengarang       : Prof. Dr. Hamka

Penyunting      : Dharmadi dan Muhammad Hasan

Penerbit           : Gema Insani Press – Depok

Tahun terbit     : 2017

ISBN               : 978-602-250-419-1

Tebal               : xii + 244 halaman

 

Sebagai sebuah bangsa yang baru lepas dari belenggu kolonialisme, bangsa Indonesia melihat perlunya ada sebuah cara pandang baru untuk melihat jati diri bangsa. Selain membebaskan diri dari penjajahan secara fisik, diperlukan juga untuk bebas secara identitas dan pemikiran. Salah satu cara untuk mencapai hal tersebut adalah mengkaji ulang bagaimana bangsa ini menilai diri mereka sendiri, dari cara pandang mereka sendiri, bukan dari cara pandang luar. Kajian ini seyogyanya menyeluruh pada berbagai macam bidang, seperti agama, budaya, bahkan sejarah. Kajian sejarah termasuk yang terpenting, karena menggambarkan bagaimana sebuah bangsa memandang diri mereka di masa lalu. Pandangan ini akan mengungkap sisi positif dan negatif dari perjalanan masa lalu mereka. Capaian, prestasi dan kegemilangan apa yang telah mereka raih, serta kejatuhan, kegagalan dan kekurangan apa yang telah mereka peroleh. Lalu dari titik itu mereka akan menata perjalanan mereka ke depan, belajar dari prestasi dan kegagalan masa lalu. Hal ini berujung pada pembentukan sebuah identitas bangsa yang utuh dan bermartabat.

Hamka sendiri termasuk yang tergugah untuk berkontribusi pada penentuan jati diri bangsa ini. Melalui karya-karyanya, ia berusaha mendefinisikan bangsa ini sebagai bangsa yang kaya akan pengetahuan, budaya dan identitas. Ini sesuai dengan semangat zaman bangsa Indonesia yang kala itu baru lepas dari kungkungan kolonialisme. Salah satu karyanya yang berusaha mengungkapkan kejayaan Nusantara di masa lalu adalah Dari Perbendaharaan Lama. Karya ini menurut Hamka dibuat untuk menjadi modal menghadapi zaman kini dan zaman depan. Ia berusaha menghidupkan kembali kisah perjuangan masa lampau dalam sanubari pembacanya, seakan-akan mereka hidup di dalamnya. Karya ini cocok dibaca oleh berbagai kalangan yang ingin mengetahui tentang sejarah Islam di bumi Nusantara.

Hamka mengungkapkan bahwa walaupun sumber bacaannya dalam menulis karya ini sama dengan yang dibaca oleh nenek moyang kita, dari perbendaharaan ilmu pengetahuan lama juga, bahkan mungkin juga sama dengan yang dibaca oleh para sarjana Belanda, namun ia memandang dari sudut pandang yang yang berbeda dari mereka, ia menemukan apa yang tidak mereka temukan. Hamka berusaha mendefinisikan bahwa ia memandang sejarah bangsa ini dengan sudut pandang mereka sendiri, sudut pandangnya sebagai seorang Muslim. Dengan demikian, karyanya ini menggali sejarah Islam di bumi Nusantara. Karya ini berasal dari kumpulan tulisan Hamka yang dimuat secara berkala dalam mingguan Abadi dari tahun 1955-1960. Gema Insani Press menerbitkan kembali buku ini dengan judul Dari Perbendaharaan Lama: Menyingkap Sejarah Islam Di Nusantara. Ia  merupakan revitalisasi dari karya Hamka tersebut dengan beberapa proses suntingan. Tujuannya adalah agar pembaca memperoleh gambaran yang utuh mengenai buku ini.

Buku setebal 244 halaman ini terbagi menjadi enam bagian. Bagian pertama memuat tentang masuknya Islam di abad 13 M. Ia memulai pembahasan bagian dengan dengan teori bahwa Islam telah masuk ke tanah ini sejak zaman pemerintahan Khalifah Yazid bin Muawiyah, teori yang dianut oleh Mufti Johor Sayyid Alwi bin Taher Al-Hadad. Kemudian di akhir abad ini terjadi pergantian pengaruh dari Hindu yang ditandai dengan wafatnya Kertanegara Raja Singasari terakhir kepada pengaruh Islam yang dimulai dengan penobatan penguasa Pasai, Merah Silu menjadi sultan pertama di Nusantara. Setelah itu, penulis menjelaskan tentang Giri yang menjadi pusat penyebaran Islam pertama di Jawa di tangan Sunan Giri (Raden Paku). Ia merupakan putra Maulana Ishaq yang datang dari Pasai. Di usia mudanya ia berangkat menuntut ilmu ke Pasai ditemani oleh Makhdum Ibrahim yang kelak bergelar Sunan Bonang. Sekembalinya dari Pasai, kedua tokoh ini berkiprah di bidang masing-masing, Sunan Giri menyebarkan Islam di kalangan bawah dan memusatkan kegiatannya di Giri. Sunan Bonang menyebarkan Islam di kalangan istana, salah satu didikannya Raden Patah berhasil mendirikan Kesultanan Demak.

Pada ‘Islam dan Majapahit’, Hamka berusaha mematahkan argumen yang mengatakan bahwa Islam-lah yang telah meruntuhkan Imperium Majapahit. Ia mengatakan bahwa ini adalah kesalahan yang disengaja terhadap sejarah, yang menurut beliau sengaja ditanamkan oleh Snouck Hurgronje untuk menurunkan penghargaan terhadap tokoh-tokoh Islam yang telah berjasa, seperti Sunan Giri dan Sunan Bonang, Raden Patah dan Pati Unus. Padahal Islam telah ada 70 tahun sebelum Majapahit runtuh, malah Majapahit lah yang telah melibas Kerajaan Islam Pasai dan Kerajaan Islam Terenggano sehingga tidak dapat berdiri lagi. Majapahit menurut beliau runtuh karena tidak ada lagi tokohnya yang berpengaruh. Masyarakat pun telah menaruh simpati terhadap dakwah Islam yang penuh rahmat, membandingkan dengan ajaran Hindu yang telah lama mereka anut, lantas perlahan-lahan mulai mereka tinggalkan. Selain itu bagian ini juga memuat tentang Islam di Madura, biografi Syekh Yusuf Tajul Khalwati (Yusuf Al-Maqassari) dan tentang rivalitas antara Sultan Hasanuddin dan Aru Palaka, serta tentang perlawananan Sultan Khairun dan Babullah terhadap Portugis di Maluku.

Pada bagian kedua, diceritakan tentang sejarah Kesultanan Banten, yang dalam buku ini disebutnya Bantam. Bantam telah menjadi kekuatan Islam baru di barat Jawa, dan ada Aceh pula di Sumatera. Dua kekuatan Islam ini menjalin hubungan melalui pernikahan Sultan Hasanuddin Bantam dengan puteri Sultan Indrapura, yang merupakan penguasa lokal di bawah Aceh. Bantam sendiri berhasil menyebarkan Islam di sebelah barat Jawa setelah mengalahkan Raja Pajajaran terakhir, Prabu Sedah. Bantam pernah berusaha menaklukkan Palembang. Diceritakan pula bagaiman sultan-sultan Bantam bersusah payah membendung pengaruh-pengaruh asing terutama Belanda, terutama oleh Sultan Ageng Tirtayasa. Bantam mulai mengalami kemunduran dan semakin dalam dalam cengkraman Kompeni sejak dipegang oleh Sultan Haji. Dalam bagian ini, ia memberikan pelajaran bagaimana saat gelar-gelar penguasa masih sederhana, kerajaannya masih besar dan jaya. Namun, apabila mereka sudah mengambil gelar-gelar yang panjang, apalagi yang diberikan oleh Kompeni, itu menunjukkan bahwa pada hakikatnya kekuasaan mereka hanya sebatas lahiriyah saja. Wewenang-wewenangnya banyak dicabut, daerah-daerahnya banyak direbut. Nama yang panjang itu tidak ada maknanya lagi.

Bagian ketiga buku ini menceritakan tentang sejarah Islam di tanah Minangkabau dan Riau. Di sini beliau merekam perjuangan kaum Paderi menghadapi penjajahan Belanda. Imam Bonjol berjuang agar hukum dan ajaran agama berlaku dalam masyarakat, dengan bantuan kaum ninik-mamak yang menjadi sendi adat di Minangkabau. Juga Sentot Ali Basya yang dibujuk Belanda untuk memadamkan gerakan Paderi dengan tuduhan bahwa mereka sesat, ternyata berbalik melawan Belanda setelah melihat bahwa yang di Minangkabau itu saudara seiman juga. Belanda dengan saran dari orientalis melihat perkembangan dakwah Wahabi telah berhasil memadamkan kolonialisme di Tanah Arab, juga menjalar ke Nusantara. Di Minangkabau ia datang melalui gerakan Paderi. Maka mulailah Belanda menanamkan propaganda halus untuk membenturkan antara kaum adat dan kaum Paderi, mengatakan bahwa Minangkabau hanya berdiri berdasarkan adatnya. Padahal kunci kokohnya Minangkabau adalah pada syariat dan juga adat, bukan hanya salah satu. Malah kaum Paderi-lah yang mati-matian mempertahankan Pagaruyung, ibu negeri Minangkabau sebelum jatuh ke tangan Belanda pada tahun 1822.

Kemudian beliau membahas tentang Kerajaan Melaka di zaman kejatuhannya pada bagian keempat. Portugis kala itu datang mengaku sebagai utusan dagang, namun sebenarnya mereka bertujuan untuk memata-matai pertahanan Melaka. Melalui tipu muslihat, berhasil dihembuskan huru-hara di dalam istana hingga hilang kepercayaan sultan terhadap pembesar-pembesarnya. Keadaan yang sudah tidak kondusif ini berhasil dimanfaatkan oleh Portugis untuk menyerang Melaka. Sultan Melaka, Sultan Mahmud Syah pun terpaksa mundur ke Kampar, Riau dan meninggal di sana. Melaka menurut Hamka jatuh karena tidak ada lagi ahli siasat yang baik, serta karena pengkhianatan dari rakyatnya sendiri. Pasukan Pati Unus dari Demak dua kali mencoba mengusir Portugis dari Melaka, namun gagal karena pertahanan Portugis sudah terlalu kuat. Demak sendiri akhirnya runtuh oleh konflik internal dan Belanda telah berkuasa di Jawa. Portugis akhirnya berhasil disingkirkan dari Melaka oleh aliansi Belanda-Johor-Aceh. Maka Belanda-lah selanjutnya yang menguasai Melaka. Usaha merebut Melaka kembali dilakukan oleh Raja Haji Fisabilillah dari Kesultanan Riau yang berujung pada kesyahidan beliau.

Pada bagian kelima beliau memaparkan bagaimana Islam merajut tali kebangsaan di Nusantara. Bangsa-bangsa di Nusantara dengan berbagai macamnya disatukan oleh agama Islam. Tatkala kekuasaan mereka di suatu negeri dihancurkan oleh kekuatan kolonial, mereka akan mengembara ke negeri lain untuk mencari lahan dakwah yang baru. Dengan membawa semangat keislaman dan anti-kolonialisme, mereka akan diterima di negeri Islam lain, dimuliakan dan diterima dengan tangan terbuka. Hal ini tercermin pada Sunan Gunung Jati yang berdarah Arab-Aceh, berhasil menyebarkan Islam di bagian barat Jawa. Ki Gedeng Suro asal Demak, dirajakan di Palembang. Orang Melayu paska kejatuhan Melaka ke tangan Portugis, menjadi pendakwah Islam di daerah Sulawesi. Syekh Yusuf Tajul Khalwati mengembara dari Makasar ke Bantam dan berjuang di sisi Sultan Ageng Tirtayasa melawan kolonialisme Belanda. Islam merangkul semua golongan, semua berdiri sama tinggi, duduk sama rendah. Menurut Hamka, semakin tinggi fanatisme keislaman suatu daerah, semakin tinggi toleransi dalam menerima perbedaan. Di zaman perjuangan ada I.J. Kasimo seorang katolik yang berjuang dari desa ke desa mendampingi Dr. Soekhnan yang muslim dan diterima oleh penduduk walaupun ia katolik. Adapula Hoetasoit dan Ir, Sitompul yang diterima di Minangkabau di zaman agresi militer Belanda. Islam memandang orang dari baktinya, bukan suku bangsanya. Di bagian ini pula dipaparkan tentang dongeng-dongeng tasawuf yang mendewakan raja. Di akhir bagian ini beliau mengungkap pengaruh Wahabi dalam perjuangan anti-kolonialisme. Hal ini memancing ketakutan Belanda, karena jika paham itu masuk ke suatu negeri akan membuka mata rakyat untuk menentang penjajahan. Karena paham Wahabi mengusung tauhid yang menghapuskan segala sesuatu yang berunsur syirik, juga menentang pemahaman agama yang beku (jumud).

Bagian keenam buku ini membahas tentang sejarah Aceh dari zaman Sultan Iskandar Muda. Diceritakan di sini tentang kejayaan Aceh di masa itu, hingga Iskandar Muda menggelari dirinya Maharaja Diraja Pulau Sumatera dalam surat-suratnya kepada negara sahabat. Karena adilnya, ia sanggup menghukum mati puteranya yang bersalah. Tahta kerajaan ia serahkan pada menantunya Iskandar Tsani karena tidak punya keturunan. Lalu diterangkan bagaimana peran Panglima Polim anak Iskandar Muda dari gundik, yang walau awalnya ditentang oleh ulama, dengan siasatnya berhasil menaikkan adindanya Shafiatuddin yang merupakan janda Iskandar Tsani menjadi sultan wanita pertama Aceh. Silsilah sultan wanita ini terputus saat Panglima Polim yang ketiga tidak mampu lagi mencegah pembesar-pembesar Aceh untuk menurunkan Sultanah Kamalat Syah, karena pengaruhnya tidak sekuat kakeknya dulu, dan juga karena sultanah terakhir ini tidak sebijak Shafiatuddin. Kemudian di akhir bagian ini, dibahas tentang sejarah tasawuf di tanah Aceh dan tokoh-tokohnya, seperti Hamzah Fansuri, Syamsuddin Sumatrani dan Nuruddin Ar-Raniri.

         Karya Hamka ini membuka cakrawala berfikir bangsanya atas dasar persatuan Islam. Dalam penuturannya, ia mengungkap bahwa apapun suku dan bangsanya, nilai Islam lah yang harus dikedepankan dalam merajut semangat nasionalisme. Sejarah-sejarah tokoh-tokoh Islam di dalam buku ini membuktikan, bahwa selama semangat keislaman dan anti kolonialisme yang diusung, maka mereka dapat diterima di mana saja, berjuang melawan penjajah di mana saja. Islam telah meruntuhkan dinding-dinding perbedaan itu, menggantinya dengan semangat juang yang murni. Lihatlah tokoh-tokoh seperti Pangeran Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol, Syekh Yusuf Tajul Khalwati. Walaupun mereka berkali-kali dipindahkan tempat pengasingannya oleh pihak kolonial, semangat perjuangan mereka tak pernah padam. Di tempat yang baru pula mereka membangkitkan semangat perjuangan. Syekh Yusuf bahkan diasingkan ke luar negeri, ke Ceylon (Srilanka) lalu ke Tanjung Harapan (Afrika Selatan). Perjuangan mereka tak tersekat oleh dinding tempat dan waktu. Karya ini cocok dibaca kembali di zaman di mana ada pihak yang mempertanyakan semangat nasionalisme orang Islam, padahal merekalah unsur terbesar perjuangan bangsa ini dalam melawan penjajahan. Wallahu a'lam

 

ditulis oleh Haikal Alghomam, mahasiswa MSKI UIN Jakarta, anakjati Bagansiapiapi

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Comments